Indonesia harus puas dengan medali perak di Bulutangkis beregu putra

Indonesia harus puas dengan medali perak di Bulutangkis beregu putra – Medali emas terakhir yang diraih Indonesia dari nomor beregu putra diperoleh pada Asian Games Bangkok 1998.  Namun demikian, hasil di nomor beregu putra Asian Games 2018. Lebih baik dibanding hasil yang diraih tim putra Indonesia pada Asian Games 2014 di Incheon. Empat tahun lalu, tim bulu tangkis beregu putra Indonesia tidak mampu menyumbag medali apapun.

Tim bulu tangkis putra Indonesia harus puas dengan raihan medali perak nomor beregu putra. Setelah takluk dari China 1-3 pada pertandingan final di Istora Senayan, Rabu.

Poin pembuka kemenangan China diraih dari partai pertama melalui tunggal putra andalan utama mereka Shi Yu Qi yang dipaksa bermain tiga gim sebelum mengalahkan Anthony Sinisuka Ginting 14-21, 22-21, 22-20.

Indonesia mampu merebut partai kedua untuk menyamakan kedudukan setelah ganda andalan tuan rumah Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menang dalam dua gim langsung 21-17, 21-18 atas pasangan China yang baru saja tampil sebagai juara dunia Li Jun Hui/Liu Yu Chen.

Namun demikian, China yang diunggulkan di tempat pertama kembali menunjukkan ketajamannya di partai ketiga. Setelah tunggal putra kedua mereka Chen Long menang tiga gim atas Jonatan Christie 19-21, 21-16, 21-18.

China kemudian memastikan kemenangan melalui partai keempat dari pasangan ganda kedua mereka Liu Cheng/Zhang Nan. Yang mengatasi ganda kedua Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dalam tiga gim 21-18, 17-21, 21-18.

Atas hasil tersebut, tim putra bulu tangkis putra Indonesia belum dapat mewujudkan impian untuk meraih emas beregu putra sejak 20 tahun lalu.

Sedangkan tim putra bulu tangkis China mampu mempersembahkan emas pada Asian Games Guangzhou. Namun pada Asian Games 2014 hanya mampu meraih perak setelah kalah dari tim tuan rumah Korea di laga final.

Baca Juga : Atlit Dayung Putra mempersembahkan Perak di Asian Games 2018

Perjuangan tanpa lelah Anthony Ginting

Perjuangan tanpa lelah Anthony Ginting – Tunggal pertama Indonesia Anthony Sinisuka Ginting tampil luar biasa. Meski cedera lututnya kambuh, ia terus berjuang sampai akhirnya menyerah saat tertinggal 19-20 game ketiga melawan Shi Yuqi di final Asian Games 2018.

Anthony Sinisuka Ginting membuat netizen Indonesia terharu. Ia menjalani duel yang sangat dramatis pada final bulutangkis beregur putra melawan China, Shi Yuqi Rabu (22/8/2018) di Istora, Senayan.

Setelah memimpin jauh dengan skor 21-14 pada gim pertama, Shi Yuqi memaksa pertandingan dilanjutkan ke gim ketiga. Pertandingan berlangsung sangat ketat dan saling mengejar angka.

Dalam duel Indonesia Vs Cina di final bulu tangklis beregu putra Asian Games 2018, Rabu, 22 Agustus 2018 ini, Anthony akhirnya kalah. Di game pertama, Anthony menang 21-14. Namun Shi menang 23-21 di game kedua. Pada game terakhir, kejar mengejar poin terjadi hingga saat terakhir. Ginting berkali-kali meminta break kepada wasit karena masalah di kedua pahanya.

Ginting mulai merasa tidak nyaman dengan kaki kanannya saat kedudukan 11-11 pada gim ketiga. Ia memaksa melanjutkan pertandingan.

Ia berhenti sejenak di pinggir lapangan, saat memimpin 19-18. Anthony memaksa melanjutkan pertandingan dalam kondisi cedera.

Pada poin 19-19, Ginting yang sudah tak berdaya sempat memimpin 20-19 setelah pengembalian Shi melebar. Namun Shi berhasil membalikkan keadaan menjadi 20-21 setelah memberika bola net pendek yang gagal dikejar Ginting.

Pada saat itu pula Ginting terjatuh dan harus mendapat perawatan lebih lanjut. Tim medis datang. Wasit memutus pertandingan dihentikan dengan status Ginting yang cedera (retired) dan memastikan Shi menang 21-14, 21-23, dan 20-21

Perjuangan dramatis Anthony Ginting mendapat reaksi dari netizen. Ia menjadi trending topic dunia. Netizen merasa terharu dengan perjuangan Ginting, yang tetap berusaha untuk bertanding walau menahan sakit.

Baca Juga : Paralayang menambah Koleksi Emas Indonesia di Asian Games 2018

Cabang Olahraga Bulutangkis Asian Gems Dituntut Untuk Tampil Maksimal

Cabang Olahraga Bulutangkis Asian Gems Dituntut Untuk Tampil Maksimal – Sektor tunggal cabang bulutangkis dituntut untuk tampil maksimal supaya bisa meraih prestasi terbaik di ajang Asian Games 2018. Cabang olahraga bulutangkis akan digelar mulai 19-28 Agustus di Istora Senayan Jakarta.

Baca juga : Supaya Bisa Tampil di Asian Games 2018, Azzahra Permatahani Kerja Keras

Dalam beberapa turnamen, sektor tunggal diketahui belum dapat memberikan hasil yang menggembirakan. Meskipun beberapa pemain putra dan putri sudah menunjukkan progres yang cukup baik di beberapa kesempatan.

Dari sektor tunggal putri, pemain muda Gregoria Mariska Tunjung, sebetulnya punya peluang untuk membuat kejutan. Gregoria disebut bisa mengimbangi pemain elite, hanya saja ia kurang sabar dan harus lebih konsisten dalam pukulan supaya lebih akurat.

“Sektor tunggal memang harus benar-benar kerja keras. Khusus tunggal putra, harus diperbaiki lagi pukulannya, baik serangan, pertahanan, dan pola main.”

“Selain itu, fisik, kecepatan, kelincahan di lapangan, serta antisipasi untuk mengambil kendali permainan, juga harus diasah lagi,” kata Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI melalui rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (10/8).

Dari sektor ganda campuran, Asian Games 2018 akan menjadi sasaran terakhir bagi Liliyana Natsir yang memutuskan untuk pensiun setelahnya. Berpasangan dengan Tontowi Ahmad, keduanya berpeluang besar untuk membalas kegagalan mereka di Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan.

Asian Gems

Ganda putra andalan Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juga punya peluang besar untuk meraih medali emas. Terlebih, sepanjang 2018 pasangan nomor satu dunia itu sudah dua kali jadi jawara di hadapan publik sendiri; Indonesia Masters dan Indonesia Open 2018.

Peraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018, Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga punya peluang yang sama. Meski tampil dengan pasangan berbeda, Greysia disebut punya kesempatan untuk mengulang suksesnya bersama Nitya Krishinda Maheswari di Incheon empat tahun lalu.

Di sisa waktu persiapan menuju Asian Games 2018, Susy mengatakan para atlet telah menjalani program khusus yang disiapkan PBSI. Mulai dari dari pematangan teknik, fisik, gizi dan psikologis demi hasil terbaik.

“Di sisa waktu ini yang paling penting menjaga kondisi, stamina dan menyusun strategi. Kami juga akan menganalisis lawan yang akan dihadapi baik kelebihan dan kelemahannya. Di samping itu akan ada sesi meningkatkan kematangan pukulan dan adaptasi penguasaan lapangan di Istora,” sebut Susy.

Selain nomor perseorangan, bulutangkis juga memainkan nomor beregu putra dan putri yang digelar lebih awal dari nomor perseorangan.

Proses pengundian nomor beregu akan diadakan, Kamis (16/8). Sedangkan undian nomor perorangan akan dilangsungkan pada Rabu, (22/8).

Kevin Sanjaya Akan Segera Menerima Teguran Dari PBSI

Kevin Sanjaya Akan Segera Menerima Teguran Dari PBSI – Atlet bulutangkis Indonesia, Kevin sanjaya Sukamuljo akan segera mendapatkan teguran keras dari PP PBSI setelah perbuatan yang telah di lakukannya saat di babak perempat final Blibli Indonesia Open 2018 pada hari Jumat, (6/7/2018) kemarin. Saat pertandingan itu berlangsung, Kevin pun melakukan tindakan yang tak terpuji dengan lawannya Denmark.

Baca juga: Daftar Cabang Olahraga Asian Games 2018

Kevin Sanjaya dan pasangannya, Marcus Fernaldi Gideon, mengajukan protes terhadap keputusan yang telah di berikan oleh sang wasit pertandingan saat mereka menghadapi pasangan Denmark, Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding. Dengan protes yang di lontarkan dari pasangan ganda Indonesia itu sempat mengehentikan beberapa menit pertandingan. Kevin Kevin mengajukan protes kepada wasit dan menunjukkan gesture (gerak tubuh) kepada lawannya maupun penoton. Antara lain dengan mengacungkan jempol ke bawah.

“Kami mendukung permintaan Marcus dan Kevin untuk mengajukan keluhan kepada BWF tentang cara kerja wasit. Namun, di samping itu, kami juga berencana mengajak bicara mereka berdua—terutama Kevin—tentang hal-hal yang dapat berisiko di masa depan,” kata Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto di Istora Senayan, Minggu (8/7/2016).

Menurut Budiharto, mereka menerima keluhan Kevin dan Marcus tentang ancaman pemberian kartu hitam. Oleh salah seorang ofisial BWF di ruang ganti setelah pertandingan usai. “Secara peraturan, referee memang berhak mengeluarkan kartu hitam kepada pemain yang dianggap bersikap berlebihan. Risikonya, si pemain dapat terkena diskualifikasi dan tidak diperbolehkan melanjutkan pertandingan,” kata Budiharto lagi.

Kevin Sanjaya

Mereka pun berjanji yang akan meneruskan keluhan pasangan peringkat satu ganda putra dunia yang berasal dari Indonesia ini. Budiharto sangat berharap kedua atlet kebanggan Indonesia ini dapat menerika seluruh masukan yang di berikan pada mereka berdua, terutama dari pengurusd dan pelatih.

“Kami akan meminta para pelatih ganda untuk bicara dengan mereka soal permintaan untuk lebih menahan diri di lapangan. Apalagi, di tahun depan (2019) kita akan mulai menghadapi tahun kualifikasi menuju Olimpiade Tokyo 2020. Jangan sampai mereka justru dirugikan soal ini,” ujarnya lagi.

“Kami paham Kevin masih muda dan situasi saat itu memang sangat memancing emosi. Namun, untuk kepentingan lebih besar dan jauh, tentunya tak ada salahnya bila kita bisa menahan diri,” lanjut Budiharto.

Pada ajang Blibli Indonesia Open 2018, pasangan ganda Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon ini pun berhasil merebut gelar juara di setelah melewati partai final. Mereka berhasil mengalahkan ganda campuran asal Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko, 21-13, 21-16.

Tiga Ganda Campuran Indonesia Berhasil Lolos Menuju Malaysia Open 2018

Tiga Ganda Campuran Indonesia Berhasil Lolos Menuju Malaysia Open 2018  – Di pertadingan Malaysia Open 2018, cabang olahraga Bulutangkis sebanyak tiga ganda campuran Indonesia berhasil lolos menuju babak kedua. Termasuk ganda campuran andalan Indonesia Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, mereka berjuang dengan keras yang akhirnya berhasil lolos.

Baca juga:  Hadapi Korsel, Milla Akhirnya Panggil Stefano Lilipaly

Kedua pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir saat ini bukan lah atlet yang memiliki usia yang masih mudah. Di tahun ini Tontowi Ahmad memasuki usianya yang ke 31 tahun, sementara itu rekannya Liliyana Natsir di tahun ini memasuki usianya yang ke 33 tahun. Meskipun usia tak lagu mudah, mereka masih mampu untuk bersaing dengan pemain-pemain mudag lainnya.

Dalam laga pertama di turnamen Malaysia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 750, Tontowi/Liliyana menang dua gim angsung atas Liao Min Chun/Chen Hsiao Huan (Taiwan), dengan skor 21-18, 21-11. Meskipun menang straight game, Tontowi/Liliyana menuturukan bahwa di awal game mereka masih menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan.

“Kami sudah lama tidak bertanding di stadion ini, jadi kami banyak menyesuaikan diri dengan kondisi arena pertandingan. Termasuk soal angin yang lumayan kencang, bagaimana cara mainnya, karena beda sekali mainnya kalau ada faktor kalah atau menang angin,” kata Liliyana.

Tiga Ganda Campuran Indonesia Berhasil Lolos

“Kalau dilihat hasil undian, memang dibandingkan yang lain, undian ini lebih baik. Tetapi kami tidak boleh menganggap enteng karena kami tidak muda lagi. Kami harus bermain seefisien mungkin, harus bisa menerapkan strategi yang benar. Jangan terlalu menggebu-gebu, malah nanti antiklimaks, jadi harus lebih cerdik,” tambah Liliyana.

Tontowi/Liliyana menjadi ganda campuran pertama dari Indonesia yang lolos menunuju ke babak kedua Malaysia Open. Mereka disusul Ronald Alexander/Annisa Saufika yang menaklukkan Ronan Labar/Audrey Fontaine (Perancis), 21-7, 18-21, 21-11. Wakil lainnya adalah Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang menyingkirkan unggulan 6 asal Denmark, Mathias Christiansen/Christinna Pedersen 21-16 11-21 21-15.

Namun sayangnya ganda campuran dari Indonesia lainnya harus gugur menuju babak kedua, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti berhasil di tahlukan oleh pasangan asal Inggris, Chris Adcock/Gabrielle Adcock dengan skor 21-14, 17-21, 18-21.

Di babak kedua, Tontowi/Liliyana yang merupakan unggulan pertama, akan menghadapi ganda asal Irlandia, Sam Magee/Chloe Magee. Ronald/Annisa bertemu unggulan 8 asal China, He Jiting/Du Yue. Sementara Hafiz/Gloria akan menghadapi ganda Jepang, Yuta Watanabe/Arisa Higashino.