Daftar Atlet Indonesia

Beban Berat Kevin/Markus di Tahun 2018

Beban Berat Kevin/Markus di Tahun 2018

Beban Berat Kevin/Markus di Tahun 2018 – Ganda terbaik dunia Minion Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo / Markus Fernaldi Gideon mencatat prestasi yang gemilang selama  musim 2017. Mereka memenangkan 7 gelar Super Series dimulai dari:

1. All England 12 Maret 2017
2. India Open April 2 2017
3. Malaysia Open 9 April 2017
4. Japan Open 24 September 2017
5. China Open 19 November 2017
6. Hongkong Open 26 November 2017
7. Dubai World Super Series Final 17 Desember 2017

Dengan pencapaian 7 gelar Super Series ini mereka memecahkan rekor gelar Super Series yang sebelumnya dipegang oleh Ganda Putra Korea dengan catatan 6 kali menjuarai Super Series.

Prestasi besar ini akan menjadi tantangan menarik untuk diulangi oleh mereka berdua di tahun 2018.

1. Beban lebih berat

Kevin/Markus masuk ke kompetisi 2017 sebagai ganda putra yang potensial. Kini, mereka akan masuk kompetisi 2018 sebagai ganda putra terbaik dunia.

Perbedaan status ini yang akan menjadi tantangan baru bagi Kecin/Markus. Mereka akan mempunyai beban yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Kevin/Markus berhasil menjawab tantangan  itu dalam beberapa turnamen di tahun 2017, namun untuk musim kompetisi 2018, mereka akan bermain dengan tantangan tersebut sepanjang musim.

2. Gelar di turnamen besar

Dari tujuh gelar yang didapatkan Kevin/Markus di tahun 2017, hanya All England yang masuk gelar bergengsi meskipun tarafnya masih super Series.

Di tahun 2017, Kevin/Markus gagal bersinar saat tampil di Kejuaraan Dunia. Mereka kalah di babak perempat final. Rasa penasaran atas gelar di turnamen besar bija jadi penghambat mereka untuk berprestasi. Bila mereka tidak mampu mengontrol meluapnya ambisi untuk bisa menjadi juara, hal itu akan malah membuat mereka tidak bisa mengeluarkan seluruh potensi yang mereka miliki.

3. Gaya permainan dipelajari lawan

Video rekaman pertandingan Kevin/Markus akan menjadi video yang paling sering ditonton oleh pasangan ganda putra lainnya di dunia ini. Gaya permainan mereka akan diteliti secara detail dan dicari celah yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.

Kevin/Markus harus siap menghadapi kemungkinan itu dan tidak panik saat strategi main mereka terbaca oleh lawan. Agar bisa tetap tenang, tentu mereka harus punya banyak alternatip cara main yang justru membuat lawan berbalik kebingungan.

4. Ancaman Cedera

Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi pernah menyebut bahwa musuh utama Kevin/Markus adalah cedera. Ucapan Herry itu menemui pembenaran karena mereka sudah beberapa kali absen karena cedera, seperti di Kejuaraan Asia (Markus cedera), Australia Super Series (Kevin cedera), dan Prancis Super Series (Markus cedera).

Untuk tahun 2018, Kevin/Markus harus makin pintar untuk mengatur porsi kompetisi yang akan mereka ikuti. Mereka harus lebih selektif, terutama ketika ajang-ajang penting seperti All England, Kejuaraan Dunia, hingga Asian Games yang ada di depan mata.

Baca Juga : Susi Susanti

Susi Susanti

Susi Susanti

Susi Susanti – Lucia Fanciska Susi Susanti atau yang biasa disebut Susi Susanti lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, tangal 11 Februari 1971. Dia dikenal sebagai pemain bulutangkis putri yang memiliki sikap tenang saat bertanding. Bahkan ia pun mampu mengendalikan emosi saat bertanding meskipun telah tertinggal jauh dari lawannya. Tak ada kata menyerah baginya.

Sikap mental dan sikap Susy tak lepas dari kualitas teknis permainannya. Ia memiliki kelebihan yang sempurna dari sisi pukulan komplit, fisik kuat, dan kecepatan. Itu semua ia bangun sejak kecil. Ia memang menyukai olahraga bulutangkis sejak Sekolah Dasar (SD).

Susi memulai karir bulutangkis di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya. Di sana dia berlatih selama tujuh tahun. Setelah itu, dia hijrah ke PB Jaya Raya mulai 1985 ketika dia masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan berpikir untuk serius di dunia bulutangkis. Ia pun masuk sekolah altet dan tinggal di Asrama.

Tinggal di asrama, ia harus disiplin. Ia memiliki jadwal latihan yang sangat padat.  Enam hari dalam seminggu, Senin – Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam.

Memasuki usia 14 tahun, ia menjadi Juara World Championship Junior pada 1985. Ia raih dalam pertandingan tunggal, ganda putri, dan campuran. Pada 1987, ia kembali menjuarainya pada nomor tunggal dan ganda putri. Fantastis, ia raih 5 kali juara junior tingkat dunia.

Sementara karier profesional dewasanya, ia mulai meraih juara Indonesa Terbuka pada tahun 1989 saat berusia 18 tahun. Di ajang turnamen Indonesia Terbuka Susi 6 kali juara.

Sejak itu, prestasi demi prestasi ia raihnya. Sebelumnya, pada 1987, Susi berhasil turut serta menyumbangkan gelar Piala Sudirman pada tim Indonesia untuk pertama kalinya. Susi mulai dengan merajai kompetisi bulu tangkis wanita saat itu, dengan menjuarai All England sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1990, 1991, 1993, dan 1994. Ia juga menjadi Juara Dunia di tahun 1993.

Susi Susanti

Namun, namanya menjadi kebanggaan rakyat Indonesia terjadi pada tahun 1992, ia berhasil menjadi juara tunggal putri cabang bulu tangkis di Olimpiade Barcelona, Spanyol. Selasa 4 Agustus 1992, rakyat Indonesia larut dalam kebahagiaaan. Di hari itu, Susi Susanti berhasil menorehkan nama Indonesia di panggung internasional dengan merebut medali emas di ajang Olimpiade Barcelona.

Dalam laga puncak, Susi berhasil mengalahkan pebulutangkis tunggal putri Korea Selatan, Bang Soo-hyun, 5-11, 11-5 dan 11-3. Usai laga itu, Susi pun menghadirkan kebanggaan dari arena olahraga sejagat raya. Ia menjadi peraih emas pertama bagi Indonesia di ajang olimpiade.

Yang bikin hebat lagi, Alan Budikusuma yang saat itu berstatus pacar juga berhasil menjadi juara di tunggal putra. Setelah itu media asing menjuluki mereka sebagai “Pengantin Olimpiade”, dimana julukan itu akhirnya menjadi kenyataan pada 9 Februari 1997.

Di Olimpiade berikutnya tahun 1996 di Atlanta, Amerika Serikat, ia kembali berhasil meraih medali walaupun medali perunggu. Saat itu juga Susi berhasil merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 bersama tim Uber Indonesia. Banyak gelar yang seri Grand Prix yang berhasil ia raih sepanjang kariernya.

Memasuki tahun 1997, saat mulai regenerasi pemain muda, Susi mulai mengundurkan diri dari dunia bulutangkis. Pada tahun yang sama, ia pun melaksanakan pernikahannya dengan Alan Budi Kusuma di Jakarta.

Selama membangun rumah tangga, Susi tak lepas dengan dunia bulutangkis. Ia mendirikan gedung bulutangkis dengan nama Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading, Jakarta. Mereka berdua juga membuat raket dengan merek Astec (Alan-Susi Technology). Selain itu, Susi juga disibukkan menjadi komentator pertandingan bulutangkis di stasiun televisi.

KELUARGA
Suami            : Alan Budikusuma
Anak              : Laurencia Averina,  Albertus Edward dan  Sebastianus Frederick

PENGHARGAAN
Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama 1992
The Badminton Hall of Fame 2004

Tunggal Putri

  • Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
  • Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
  • Medali Perunggu Asian Games 1990, dan 1994
  • Juara World Championship 1993, semifinalis World Championship 1991, 1995
  • Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994, Finalis All England 1989
  • Juara World Cup 1989 ,1990, 1993, 1994, 1996, 1997
  • Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
  • Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
  • Juara Malaysia Open 1992,1993, 1994, 1995, dan 1997
  • Juara Japan Open 1991 1992, 1994, dan 1995
  • Juara Korea Open 1995
  • Juara Dutch Open 1993, 1994
  • Juara German Open 1992, 1993 1994
  • Juara Denmark Open 1991 dan 1992
  • Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994
  • Juara Swedish Open 1991 1992
  • Juara Vietnam Open 1997
  • Juara China Taipei Open 1991, 1994 dan 1996
  • Juara SEA Games 1987, 1989, 1991, 1995, 1997 (beregu)
  • Juara PON 1993
  • Juara World Championship Junior 5 kali 1985(ws,wd,xd=3 nomor sekaligus)1987(ws,wd)
  • Juara Australia Open 1990

Beregu Putri

  • Juara Piala Sudirman 1989 (Tim Indonesia)
  • Juara Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Indonesia)
  • Finalis Piala Sudirman 1991, 1993, 1995 (Tim Indonesia)
  • Finalis Piala Uber 1998 (Tim Indonesia)
  • Finalis Asian Games 1990, 1994 (Tim Indonesia)
  • Semifinalis Piala Uber 1988, 1990, 1992 (Tim Indonesia)
  • Juara SEA Games 1987, 1989, 1991, 1993, 1995 (Tim Indonesia)
  • Juara PON 1993 (Tim Jawa Barat)

Baca Juga : Perjalanan Tim Nasional Indonesia di Tahun 2017

Perjalanan Tim Nasional Indonesia di Tahun 2017

Perjalanan Tim Nasional Indonesia di Tahun 2017

Perjalanan Tim Nasional Indonesia di Tahun 2017 – Tim Nasional Sepakbola Putra Indonesia telah menjalani 51 pertandingan sepanjang tahun 2017. Bagaimana prestasi yang mereka dapatkan dalam periode tersebut?

Sepanjang tahun 2017, ada empat kelompok tim nasional putra yang secara reguler menjalani pertadingan-pertandingan di berbagai ajang. Yang teratas tentu saja level senior, lalu ada timnas U-22, timnas U-19, dan timnas U-16. Semua kelompok tersebut bermain dalam ajang turnamen, kualifikasi, hingga laga persahabatan.

Dari empat kelompok tersebut, total timnas putra mencatatkan 51 pertandingan dengan meraih 27 kemenangan, tujuh imbang, dan 17 kekalahan. Ada 135 gol dan 52 kali kebobolan.

Untuk level senior, yang dilatih oleh Luis Milla, tercatat sudah menjalani 10 pertandingan. Mereka bermain dalam ajang turnamen, kualifikasi, hingga laga persahabatan.

Menurut data yang dipublikasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), timnas Senior mencatatkan lima kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan. Laga pertama timnas senior di tahun 2017 terjadi pada 21 Maret di Stadion Pakansari saat kalah 1-3 dari Myanmar.

Milla buka cuma mengelola timnas senior. Pria asal Spanyol itu juga bertugas melatih timnas U-22. Sepanjang tahun ini timnas U-22 telah memainkan 12 laga dengan memetik lima kemenangan, tiga imbang dan empat kekalahan.

Dari laga yang dilakoni itu, di antaranya adalah pertandingan di ajang SEA Games. Timnas U-22 menyabet medali perunggu setelah mengalahkan Myanmar 3-1 di perebutan tepat ketiga.

Timnas U-19 yang dikelola Indra Sjafri jadi tim yang paling banyak menjalani pertandingan. Mereka tercatat bermain sebanyak 15 kali sepanjang tahun 2017 dengan rincian delapan kemenangan dan tujuh kekalahan.

Di tahun ini Egy Maulana Vikri dkk. berhasil menyabet medali perunggu di ajang Piala AFF U-18. Mereka menang 7-1 atas Myanmar dalam perebutan tempat ketiga.

Selanjutnya, ada timnas U-16 yang dikelola Fakhri Husaini. Tim ini bermain sebanyak 14 kali di tahun 2017 dengan memetik sembilan kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan.

Baca JUga : Alan Budikusuma

Profile Alan Budikusuma

Alan Budikusuma

Alan Budikusuma – Sempat terpuruk tanpa prestasi tak membuat pebulutangkis ini menyerah. Alan Budikusuma terus berlatih meski dikucilkan oleh media. Hasilnya ia memperoleh medali emas di Olimpiade Barcelona 1992.

Bendera Merah Putih pun berkibar dan namanya melambung bak pahlawan menang dari medan perang. Tak hanya itu, kegembiraan Alan Budikusuma. Pada momen yang sama, pacarnya Susi Susanti, yang kemudian menjadi istrinya, memperoleh emas dari pertandingan putri tunggal. Alan dan Susi kemudian dijuluki Pengantin Olimpiade.

Sukses Alan bukan hal mudah. Ia harus menghabiskan waktu, tenaga, dan meninggalkan keluarga tuntuk meraih mimpinya. Ia ingin menjadi pemain bulu tangkis ternama layaknya Legenda Rudy Hartono. Tak heran, sejak kecil ia sudah tertarik dengan dunia tepok ini.

Alan Budikusuma lahir di Surabaya, 29 Maret 1968 silam. Pria yang memiliki nama lengkap Alexander Alan Budikusuma Wiratama ini sudah memiliki ketertarikan dengan dunia bulutangkis sejak usianya masih 7 tahun. Ketertarikannya dengan dunia bulutangkis, ia buktikan dengan bergabung bersama klub Rajawali di Surabaya.

Pada 1983 saat berusia 15 tahun, ia pun hijrah ke Kudus agar dapat bergabung dengan PB Djarum, yaitu klub bergengsi yang telah mencetak banyak atlet berkualitas hingga kini.

Bakatnya semakin terlihat kala ia berhasil memenangkan Jakarta Open pada tahun 1985. Prestasinya memancing ketertarikan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk mengajaknya bergabung saat usianya 19 tahun. Setahun kemudian ia berhasil juara di Thailand Open.

Meski terlihat selalu cemerlang, Alan pun sempat mengalami beberapa kekalahan. Ia pun terpuruk, salah satunya saat melawan Ardy B. Winata di All England 1991.

Tapi, hal ini tidak mengubur semangatnya untuk terus berlatih dan memperbaiki kualitas permainannya. Hingga pada tahun 1992, ia berhasil membalas kekalahannya  dengan Ardy  saat mengikuti Olimpiade Barcelona dan berhasil membawa pulang emas.

Alan Budikusuma

Kemenangan Alan tak hanya di Olimpiade Barcelona. Sederet prestasi telah ia cetak baik medali emas maupun perak. Ia pun menjuarai beberapa turnamen; German Open (1992), Indonesia Open (1993), dan Malaysia Open (1997).  Namun, yang ia tak lupankan adalah juara pertama kalinya di Jakarta Open (1985) dan meraih emas Olimpiade Barcelona 1992.

Pada 1997, saat berusia 29 tahun, Alan Budikusuma memutuskan menikah dengan Susi Susanti setelah berpacaran kurang lebih 9 tahun. Meski, awalnya ditentang karena masalah karier, namun mereka tetap melangsungkan pernikahannya.

Setelah itu, ia pun memutuskan untuk pensiun dari dunia bulutangkis. Namun, bukan berarti ia betul-betul lepas tangan. Alan masih peduli dengan perkembangan bulutangkis tanah air dan juga mengkritisinya. Pada tahun 2002, Alan dan sang istri membangun usaha bersama yaitu bisnis raket dengan merk Astec (Alan-Susi Technology).

KELUARGA

Istri : Susi Susanti
Anak  : Lourencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick

KARIER

Juara Jakarta Open 1985
Juara Thailand Open 1989
Juara Dutch Open 1989
Juara China Open 1991
Juara German Open 1992
Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
Juara Malaysia Open 1995
Juara Indonesia Open 1993
Juara Malaysia Open 1995
Medali Emas Piala Thomas 1996

PENGHARGAAN

Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama

Baca Juga : Pesenam Muda Berbakat Indonesia Raih Perunggu di Moskow

Pesenam Muda Berbakat Indonesia Raih Perunggu di Moskow

Pesenam Muda Berbakat Indonesia Raih Perunggu di Moskow

Pesenam muda berbakat Indonesia – Rifda Irfanaluthfi, berhasil meraih medai perunggu di Turnamen Internasional Senam Artistik Piala Mikhail Voronin. Ini sekaligus menjadi modal yang bagus sekali untuk menuju Asian Games 2018.

Medali perunggu didapatkan Rifda dari nomor senam lantai dengan alat di Sport Complex Olimpiyskiy, Rabu (20/12/2017). Rifda harus mengakui ketangguhan Maria Kharenkova dari Rusia sebagai peraih medali emas dan Marina Nekrasova dari Azerbaijan yang memperoleh perak.

Ketua Delegasi Tim Senam Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia (PB Persani), Novianny Rusdi Salim, puas dengan hasil yang diraih Rifda. Sebab, ajang itu diikuti pesenam Eropa Timur yang menjadi kiblat senam dunia.

“Kami bangga dengan keikutsertaan dan hasil yang diraih para atlet kita di kejuaraan ini. Hasil itu menambah pengalaman mereka dalam menghadapi kejuaraan tingkat internasional lainnya, termasuk Asian Games 2018,” kata Novianny dalam rilis KBRI Moskow, Kamis (21/12).

Rifda juga puas dengan hasil itu. Peraih medali emas dari senam balok keseimbangan SEA Games 2017 Kuala Lumpur itu mendapatkan pengalaman berharga.

“Saya sangat senang dengan medali yang diperoleh dan juga senang bertemu dengan legendaris-legendaris atlet senam kelas dunia,” ujar Rifda.

Kejuaraan itu diikuti oleh sekitar 200 atlet dari 26 negara. Di antaranya, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Finlandia, dan Jepang. Selain Rifda, PB Persani mengirimkan Armatiani, Agus Adi Prayoko, dan Dwi Samsul Arifin.

Agus yang tampil pada nomor meja lompat (vault table) dan Dwi untuk gelang-gelang (rings) berhasil mencapai babak final. Namun, mereka finis di urutan keempat.

Dengan raihan satu perunggu, Indonesia menutup turnamen itu dengan berada pada posisi keenam. Juara umum menjadi milik Rusia dengan torehan 10 emas, 8 perak, dan 2 perunggu. Uzbekistan menempati peringkat kedua dengan raihan 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu dan Azerbaijan menduduki urutan ketiga dengan perolehan 1 perak dan 1 perunggu.

Baca Juga : Promosi Asian Para Games 2018 oleh INAPGOC