Biodata Eko Yuli Irawan

Biodata Eko Yuli Irawan – Eko Yuli Irawan adalah atlet angkat besi professional yang berhasil memboyong medali perak Olimpiade Rio 2016 dengan total angkatan 312 kg. Ia telah berkiprah di dunia angkat besi sejak usia remaja.

Pria kelahiran kota Metro, Lampung pada tanggal 24 Juli 1989 ini dulunya hanyalah seorang pengembala kambing. Sang ayah, Saman, hanyalah seorang tukang becak. Sedangkan ibu, Martiah, bekerja sebagai penjual sayur. Hidup Eko Yuli bisa dikatakan serba terbatas.

Kebiasaan hidup Eko Yuli berubah kala ia melihat anak-anak tengah berlatih angkat besi di sasana Yon Haryono. Ia tertarik untuk bergabung dan ikut berlatih bersama dengan yang lainnya. Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Eko pun secara rutin ikut berlatih di klub asuhan Yon Haryono tersebut.

Prestasi pria berkulit sawo matang ini mulai terlihat pada tahun 2007, ia sukses membawa pulang medali emas dari Kejuaraan Dunia Yunior setelah di tahun sebelumnya ia sukses masuk urutan kedelapan kejuaraan dunia tahun 2006 di Santo Domingo, Republik Dominika.

Biodata Eko Yuli Irawan

Keberhasilan yang diraih semakin mengkukuhkan hatinya untuk lanjut bergelut dalam dunia angkat besi. Prestasi demi prestasi berhasil ia cetak. Eko Yuli sukses mengubah garis hidupnya dengan kegigihan yang keras.

Pada tahun berikutnya, Eko Yuli berhasil menyabet medali emas di PON dan Medali Perunggu Olimpiade Beijing. Pada tahun 2011, Ia kembali membawa pulang Medali Emas Universiade, China dan di tahun 2012, pria dengan tinggi 157 cm ini berhasil memboyong Medali Perunggu Olimpiade London.

Pada SEA Games XXVII cabang angkat besi, lagi-lagi Eko Yuli berhasil memenangkan pertarungan. Bertarung di Theinphyu Srtadium, Yangon, Eko berhasil mencatat 137 kg angkatan snatch dan 167 kg clean and jerk.

Kemampuannya yang semakin terasah berhasil membuatnya kembali membawa medali emas pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Almaty, Kazakhstan pada tahun 2014. Lalu pada tahun 2016, Ia kembali berhasil mengibarkan bendera Indonesia di ajang paling bergengsi Olimpiade Rio 2016 dengan membawa pulang medali perak.

Berkat keberhasilannya tersebut, Eko Yuli mendapat bonus dari pemerintah sebesar Rp 2 miliar dan tunjangan hari tua sebesar 15 juta per bulan yang akan diberikan per tahun kelak. Ia pun menggenggam mimpinya menjadi kebanggaan keluarga dan Indonesia.

PRESTASI
Peringkat 8 kejuaraan dunia, Santo Domingo, Republik Dominika, 2006
Medali Emas Sea Games 2007
Dua Buah Medali Perunggu kejuaraan dunia 2007, Chiang Mai, Thailand.
Medali Emas kejuaraan dunia yunior,Praha, Republik Ceko, 2007
Medali Emas PON, 2008
Medali Perunggu Olimpiade Beijing, 2008
Medali Emas Universiade, China, 2011
Medali Emas Sea Games, 2013
Medali Perunggu Olimpiade London 2012
Medali Emas Dunia Angkat Besi di Almaty, Kazakhstan 2014
Medali Perak Olimpiade Rio, Brazil 2016
Medali Emas, Jakarta, Asian Games 2018

Biodata Anthony Sinisuka Ginting

Biodata Anthony Sinisuka Ginting – Anthony Sinisuka Ginting atau yang biasa dipanggil Anthony Ginting lahir di Cimahi, Jawa Barat, 20 Oktober 1996. Ia memiliki garis keturunan karo dari sang ayah. Ginting sangat mencintai olahraga bulu tangkis.

Bakatnya sudah terlihat sejak kecil, bahkan ketika masih duduk di Sekolah Dasar (SD) ia menjuarai kompetisi bulutangkis MILO School Competition nomor Tunggal Putera 2008. Anthony kembali menjadi juara pada ajang yang sama ketika masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 2012.

SGS PLN Bandung adalah klub yang dibelanya dan karier profesionalnya dimulai pada tahun 2013. Permainannya semakin berkembang dengan seiring berjalannya waktu, dan pengalaman bertandingnya cukup banyak. Mulai dari kejuaraan nasional hingga internasional telah dia ikuti.

Salah satu prestasi terbaiknya ketika meraih medali perunggu untuk Indonesia pada kompetisi BWF World Junior Championship 2014. Ia juga pernah menjadi salah satu punggawa merah putih pada ajang Piala Thomas 2016.

Pengalamannya terus ditambah dengan mengikuti banyak kejuaraan bergengsi, mulai dari Indonesia Open, Korea Open, Japan Open, Australia Open, All England hingga Thomas Cup.

Salah satu kelebihan yang dimiliki Anthony Ginting adalah kecepatannya. Hal itu pernah menjadi perhatian pebulutangkis andalan China sekaligus juara dunia 2015, Chen Long. Chen Long pernah dikalahkan Anthony pada kejuaraan Australian Open Superseries pada babak perempatfinal. Menurutnya, Anthony memiliki pergerakan yang cepat.

Anthony menjadi salah satu dari tiga pemain Indonesia yang dikirimkan pada ajang Kejuaran Dunia Bulu Tangkis 2017 di Glasgow, Skotlandia. Ini adalah ajang perdana yang ia ikuti pada kejuaraan dunia. Sayangnya langkah Anthony Ginting terhenti pada babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2017.

Ginting menebus prestasi kelamnya pada ajang Korea Terbuka 2017. Ia menjuarai setelah mengalahkan Jonatan Christie dalam pertarungan rubber game, 13-21, 21-19 dan 20-22 di babak final. Ia pun mempersiapkan kembali untuk kejuaraan internasional lainnya.

PRESTASI

Juara MILO School Competition, SD, Tunggal Putera, 2008
Juara MILO School Competitionm, SMP, Tunggal Putera, 2012
Semifinalis Kejurnas, 2012
Juara Sirnas Surabaya, 2012
Juara Sirnas Bandung, 2012
Semifinalis World Junior Badminton Championship 2014
Meraih Medali Perunggu di Youth Olympic Games 2014
Juara Korea Terbuka, 2017

Dalam ajang Asian games 2018 Ginting mendapatkan banyak ppujian dikarenakan terus memaksakan tubuhnya yang cidera untuk terus menang.

Baca Juga :

Biodata Lalu Muhammad Zohri

Biodata Lalu Muhammad Zohri – Laki-laki yang kerap disapa Zohri ini lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 1 Juli 2000. Ia adalah putra ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Tapi sayangnya. Kedua orangtua Zohri kini telah tiada.

Ibunya meninggal saat dia masih duduk di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat saat dirinya menginjak usia 17 tahun. Zohri pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya.

Semasa hidup, sang ayah selalu mendukung Zohri mengejar mimpinya. Meski pada awalnya Zohri tenggelam karena keraguan untuk terjun ke dunia atlet karena berbagai kecemasan termasuk biaya.

Sebetulnya tentang pendidikan sendiri, Zohri tergolong sebagai anak yang malas. Ia bahkan pernah dijemput oleh gurunya agar mau sekolah dan sempat tidak naik kelas sekali.

Tapi, hal itu justru berbanding terbalik dengan kemampuanya di bidang olahraga. Zohri pertama mendapatkan tawaran untuk mengikuti kejuaraan saat masih sekolah di SMPN 1 Pemenang.

Selama keikutsertaannya dalam olimpiade, Zohri sering menduduki posisi jawara salah satunya yaitu dalam ajang Kejuaraan Nasional U-18 dan U-20 di Stadion Atletik Rawamangun.

Sejak itu, namanya pun mulai dikenal. Zohri berhasil menyelasaikan lari 100 meter dalam hitungan waktu 11.18 detik.

Seiring berjalannya waktu, kecepatan lari Zohri pun semakin melesat. Dia berhasil mencetak waktu 10.28 detik saat mengikuti Pekan Olahraga Nasonal di Jawa Tengah pada tahun 2017 lalu.

Karena memiliki potensi besar, Johri kemudian dipinang PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia untuk memperkuat Timnas Indonesia untuk bertarung dalam perhelatan Kejuaraan Dunia Remaja di Kenya.

Ia berhasil menyelesaikan lari 200 meter dalam waktu 21.96 detik dan berhasil membawa pulang medali emas.

Zohri yang tergabung dalam Pelatnas di akhir 2017 ini pun berhasil meraih medali perunggu saat tampil dalam test untuk perhelatan Asian Games 2018. Sedangkan atlet yang meraih medali emas kala itu berasal dari Sri Lanka dengan selisih hanya 0.02 detik dengan Zohri.

Pada Kejuaraan Atletik Dunia U-20 2018, tepat usianya 20 tahun, Zohri sukses menjadi sprinter tercepat di dunia dengan rekor 10.18 detik disusul pelari asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison.

Zohri telah mencetak sejarah baru bagi Indonesia karena dialah pertama kalinya Indonesia berhasil memenangkan kejuaraan ini.

PRESTASI

Juara 1 Lari 100 m Kejuaraan Asia Atletik Junior 2018
Juara 1 Lari 100 m Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018

Baca Juga :

Biodata Jonatan Christie

Biodata Jonatan Christie – Jonatan Christie atau sering disapa Jojo lahir di Jakarta, 15 September 1997 dari pasangan Andreas Adi dan Marianti Djaja. Ayahnya berperan besar dalam perjalanan kariernya di dunia bulutangkis.

Jonatan dikenalkan bulutangkis oleh ayahnya sejak kecil. Ia mulai bermain bulutangkis ketika usianya menginjak 6 tahun. Sebelumnya, ia juga bermain olahraga lain, basket dan sepak bola. Namun, ayahnya menginginkan dirinya fokus pada bukutangkis.

Sejak itulah, ia mulai serius menekuni bulutangkis. Baik mengikuti di sekolah maupun di luar sekolah. Jonatan juga berlatih di klub Taurus. Hasil latihan yang keras, ia memperoleh sejumlah piala dari berbagai turnamen.

Pada 2008 menjadi tahun milik Jonatan. Dalam usia 11 tahun, ia mendapatkan 7 trofy kemenangan pada kejuaara tingkat DKI, nasional, dan internasional. Bahkan ia merai medali emas pada ajang Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara, Jakarta, 2008

Atas sejumlah prestasi tersebut, tentunya mengharumkan nama bangsa, Jonatan Christie mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.

Sejumlah penghargaan yang diraihnya tak membuat Jonatan terlena. Ia terus berlatih dan ingin memiliki prestasi seperti idolanya pebulutangkis dunia Lin Dan. Tahun demi tahun, ia peroleh kemenangan. Salah satunya, ia meraih Juara Junior Asia U-15 Ichiba, Jepang, 2010.

Sementara untuk gelar seniornya, pertama kali ia raih pada ajang International Challenge 2013 di Indonesia. Saat itu usianya masih tergolong muda, 15 tahun.

Meski begitu, namanya mulai jadi pembicaraan publik saat mengikuti Indonesia Open 2015. Saat itu ia berhasil masuk perempat final. Wajahnya yang tampan menambah popularitas Jonatan di mata kaum hawa yang terpesona ketika melihat aksi-aksinya.

Seiring bertambah jam terbangnya, permainan Jonatan makin berkembang dan matang. Ia menjadi pemain andalan Indonesia pada SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. Ia pun menyumbangkan satu medali emas dari tunggal putra. Sebuah hasil yang membanggakan

PRESTASI

Juara I kejuaraan daerah (kejurda) DKI Jakarta, 2008
Juara I kejuaraan usia dini BM-77,2008
Juara I kejuaraan Astec, 2008
Juara I Olimpiade Olahraga dan Siswa Nasional (O2SN), 2008
Juara I “Tetra Pak Open Milk Cup”, 2008.
Medali Emas Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara, Jakarta, 2008
Juara Junior Asia U-15 Ichiba, Jepang, 2010
Juara ASEAN School 2013
Medali Perak Beregu World Junior Championships 2013, 2014
Juara Indonesia International Challenge 2013
Runner Up Indonesia International Challenge 2014
Juara International challenge Swiss Open 2014
Perempatfinal Indonesia Super Series Premier 2015
Medali Emas SEA Games Beregu Putra 2015

Pada Asian games 2018 kemarin, Jojo berhasil mendapatkan medali emas dalam tunggal putra lantas Jojo yang khas dengan selebrasinya membuka baju menjadi pusat perhatian para wanita dengan perutnya yang six pack.

Baca Juga :

Biodata Liliyana Natsir

Biodata Liliyana Natsir – Awal karier profesionalnya, Liliyana Natsir mulanya berpasangan dengan Vita Marisa untuk di partai ganda putri. Tapi saat itu sang pelatih, Richard Mainaky memutuskan Butet untuk berpasangan dengan Nova Widianto di partai ganda campuran sejak tahun 2004.

Ternyata, keputusan pelatih terbukti berhasil. Sejak saat itu pasangan Nova Widianto-Liliyana berhasil meraih banyak gelar seperti Singapore Open (2004), SEA Games (2005, 2007), Juara Taiwan Open (2006), Indonesia Open (2005). Yang membanggakan kedua pasangan ini meraih juara dunia dunia di Amerika Serikat (2005) dan Malaysia (2007)

Tahun 2009 adalah menjadi tahun terakhir untuk pasangan itu, saat itu usia Nova menjadi alasan utama PBSI untuk mengakhiri pasangan yang beda usia cukup jauh, Nova waktu itu berusia 35 tahun sedangkan Liliyanan 8 tahun lebih muda.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mencari pasangan bagi Liliyana, dan terpilih Tontowi Ahmad atau yang disapa Owi untuk jadi pasangan barunya. Pasangan ini cukup cepat untuk beradaptasi satu sama lain, terbukti mereka berhasil menjuarai turnamen Macau Open Grand Prix Gold tahun 2010.

Tahun-tahun berikutnya pasangan ini semakin kompak dan berhasil meraih banyak gelar diantaranya Juara Malaysia Open GP Gold 2011, Juara Sunrise India Open Super Series 2011, Juara Swiss Open 2012, Runner-Up Yonex Denmark Open 2012 dan masih banyak lainnya. Yang istimewa pasangan ini juga berhasil Juara Dunia di Guangzhou, Cina.

Sambutan yang luar biasa dari pasangan ini justru kedua pasangan ini berhasil pada tahun 2016. Butet berhasil merebut medali emas ganda camputan Olimpiade 2016 di Rio de Janiero, Brasil. Kehadiran mereka di Jakarta bak pahlawan. Mulai dari penyambutan di Bandara Soetta hingga ke pawai ke Istana Presiden.

PRESTASI

Juara Macau Open GP Gold 2010
Juara Indonesia Open GP Gold 2010
Runner-up Chinese Taipei GP Gold 2010
Juara Yonex Sunrise India Open Super Series 2011
Juara Malaysia Open GP Gold 2011
Juara Singapura Open Super Series 2011
Runner-up Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2011
Juara SEA GAMES 2011
Juara Kumpoo Macau Open 2011
Juara Yonex All England Badminton Championships 2012
Juara Swiss Open 2012
Juara India Open Super Series 2012

Runner-Up Djarum Indonesia Open Super Series 2012
Semi final Olympics 2012
Juara Indonesia Open GPG 2012
Runner-up Denmark Open Premiere Super Series 2012
Juara Kumpoo Macau Open Badminton Championships 2012
Juara Yonex All England Badminton Championships 2013
Semifinalis Swiss Open Grand Prix Gold 2013
Juara Yonex Sunrise India Open Super Series 2013
Semifinal Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2013
Juara Li-Ning Singapore Open Super Series 2013
Juara BWF World Championship 2013
Runner-Up Yonex Surise Indonesia Open GP Gold 2013
Runner-Up Yonex Denmark Open Super Series Premier 2013

Juara Victor China Open Super Series Premier 2013
Juara Yonex All England Badminton Championships 2014
Juara OUE Badminton Singapore Open 2014
Juara French Open Super Series 2014
Semifinalis Denmark Open Super Series Premier 2015
Runner-Up Yonex All England Badminton Championships 2015
Semifinal Maybank Malaysia Open 2015
Juara Badminton Asia Championships 2015
Semifinalis Malaysia Open Super Series Premier 2015
Semifinalis Swiss Open Grand Prix Gold 2015
Semifinalis Singapore Open Super Series 2015
Juara Asia Badminton Championships 2015
Semifinalis Piala Sudirman 2015
Semifinalis Australian Open Super Series 2015
Semifinalis Indonesia Open Super Series Premier 2015
Semifinalis BWF World Championships 2015
Runner up Korea Open Super Series 2015
Semifinalis Denmark Open Super Series Premier 2015
Juara Indonesia Masters Grand Prix Gold 2015
Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016
Semifinal Singapore Open Superseries 2016
Juara Olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016

Lilyana Natsir berhasil meraih medali emas dalam ajang Asian games 2018 kemarin dan prestasi tersebut sekaligus menjadi kali terakhirmnya dalam dunia bulu tangkis profesional Indonesia karena ia memilih untuk pensiun.

Baca Juga: