Paralayang menambah Koleksi Emas Indonesia di Asian Games 2018

Paralayang menambah Koleksi Emas Indonesia di Asian Games 2018 – Indonesia berhasil menambah perolehan emas setelah pada cabor Paralayang dalam ketepatan mendarat putra berhasil menyabet emas.

Medali emas itu dipersembahkan oleh atlet paralayang Merah Putih, Jafro Megawanto. Jafro Megawanto berhasil keluar sebagai yang terbaik dengan mengalahkan 32 peserta lainnya yang mengikuti nomor tersebut. Cabang olahraga paragliding (paralayang) mempersembahkan medali emasnya yang kedua bagi kontingen Indonesia, setelah Jafro Megawanto memimpin dalam nomor ketepatan mendarat putra, dalam lomba yang digelar di Gunung Mas, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (23/8) pagi.

Padahal, paralayang merupakan cabor yang baru pertama kali diperlombakan pada ajang olahraga empat tahunan tersebut. Namun cabang olah raga ini langsung bisa memberikan hasil terbaik dari atlit-atlit paralayang Indonesia. Sehari sebelumnya, Jafro Megawanto juga turut berandil besar membawa Indonesia meraih emas di nomor akurasi beregu putra. Bersama Hening Paradigma, Joni Efendi, Roni Pratama, dan Aris Apriansyah.

Jafro kini sukses meraih emas lagi di nomor perorangan setelah berada di posisi teratas selepas 10 round. Hasil itu turut membuat paralayang sudah mempersembahkan dua medali emas dan satu perak di Asian Games 2018. Jafro Megawanto mencatat nilai terbaik dari 33 atlet. Selain dia, wakil Indonesia lainnya pada nomor ini adalah Joni Effendi.

Secara umum, kontingen paralayang Indonesia hingga saat ini telah menyumbang dua emas dan satu perak di Asian Games 2018.

Perak dari cabang paralayang Asian Games 2018 didapat dari nomor akurasi beregu putri melalui trio Rika Wijayanti, Lis Andriana, dan Ike Ayu Wulandari.

Bersamaan dengan hasil gemilang Jafro yang mempersembahkan meraih medali emas. Pasangan Julianti dan Yayah Rokayah mendapatkan medali perunggu dari cabang rowing. Sementara itu, perak didapat tim putra yang tampil pada nomor Lightweight Men’s Four (LM4-).

Dengan demikian, jumlah total medali yang sudah diraih kontingen Indonesia dalam Asian XVIII tahun 2018 hingga siang ini adalah 7 emas, 5 perak, dan 8 perunggu.

Baca Juga : Rika Wijayanti

Rika Wijayanti

Rika Wijayanti – Indonesia berkesempatan menggelar cabang olahraga (cabor) paralayang yang pertama kali diadakan dalam ajang Asian Games 2018.

Dari cabor paralayang, Indonesia memiliki atlet paralayang profesional bernama Rika Wijayanti. Wanita berumur 23 tahun itu tak pernah menyangka, jalan hidupnya akan banyak ia habiskan di udara. Berawal dari coba-coba, Rika berhasil mencatatkan sejumlah prestasi gemilang di cabang paralayang tingkat dunia

“Awalnya kita itu bantu lipat-lipat parasut. Dulu jadi saat ada orang yang turun, mendarat, kita bantuin lipatin. Kita dibayar, biasanya kita dibayar Rp 2 ribu kalau solo. Kalau parasut tandem, karena lebih besar, jadinya Rp 5 ribu,” kata Rika

Bermula dari sana, Rika mendapat banyak kesempatan untuk ground handling (mengatur parasut selama di darat). Di umur 16 tahun, ia kemudian diajak kakaknya, Joni Effendi, yang telah lebih dulu masuk ke dunia profesional paralayang. Sama dengan Rika, karir atlet Joni berawal dari caddy parasut di Songgokerto.

Rika pertama kali serius menekuni dunia paralayang. Selepas lulus dari SMK 17 Agustus Batu, ia diberi kesempatan untuk terbang dengan parasut pinjaman milik perkumpulan itu. “Di sana ada tiga parasut dan dipakai bergantian sama semua orang. Tiga parasut bisa enam tujuh orang,” kata Rika.

Di tahun 2018 ini, ia memulai seri Paragliding Accuracy World Championship (PGWAC) 2018 dengan baik. Berbekal parasut SkyWalk, ia menjuarai seri pertama di Cyprus, Turki. Ia pun menargetkan hasil maksimal di Asian Games 2018 mendatang.

Atlet yang saat ini berada di peringkat tiga dunia itu yakin bisa ikut membawa harum nama bangsa negara Indonesia, lewat cabang yang pertama kalinya ditandingkan di Asian Games 2018. “Kalau tahun ini target saya emas Asian Games 2018 di nomor ketepatan mendarat perorangan,” kata Rika.

Pada Asian Games 2018 ini Rika mampu mempersembahkan medali perunggu memang perolehan ini tidak memenuhi target pribadi sang atlit, namun dia berusaha maksimal memberikan yang terbaik buat negara Indonesia pada Asian Games 2018 ini.

Baca Juga : Optimisme Atlet Sepatu Roda Untuk Asian Games 2018

Optimisme Atlet Sepatu Roda Untuk Asian Games 2018

Optimisme Atlet Sepatu Roda Untuk Asian Games 2018 – Menpora Imam Nahrawi selalu memberikan perhatian lebih terhadap setiap usaha serta perjuangan para atlet dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi Asian Games 2018. Salah satunya adalah dengan melihat secara langsung Pelatnas Sepatu Roda dan mengobarkan semangat kepada para atlet di Cluster Aralia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/8).

Baca juga : VJ Daniel Ajak Rakyat Indonesia Untuk Lebih Peduli dengan Olahraga Indonesia

“Secara lahiriah semua atlet kita sudah berlatih, pelatihnya juga luar biasa keren-keren. Belum lagi didukung masyarakat di sekitar sini di Perumahan Aralia. Keterpaduan ini sesungguhnya yang perlu kita rawat sampai mereka dapat mempersembahkan yang terbaik di Asian Games nanti,” ujar Menpora.

Dalam proses latihan, Menpora mengetahui bahwa tidak semua berjalan mulus, seperti adanya cidera yang menimpa sebagian atlet. Kadar cedera pun bervariasi, dari ringan, sedang, hingga berat. Meski demikian, hal itulah yang menjadi bagian perjuangan demi berkibarnya Merah Putih dan berkumandangnya Indonesia Raya di Asian Games nanti.

“Kita kabarkan kepada masyarakat apapun yang mereka persembahkan nanti itulah hasil terbaik. Jangan sampai ketika menang kita sambut dengan sorak sorai terus ketika belum berhasil kita cemooh. Kita harus hargai proses yang mereka berikan, pengorbanannya,” imbuhnya.

Saat jeda latihan, Menpora pun berbincang bersama para atlet sepada di atas rumput yang tidak jauh dari tempat mereka berlatih. Ia mulai mendengarkan satu per satu yang disampaikan para atlet.

Asian Games 2018

“Kita di sini dari Tim Sepatu Roda Indonesia sudah berlatih dari bulan Februari sampai sekarang, mohon doanya pada lomba (31/8) mendapatkan yang terbaik, diberikan kekuatan, keselamatan, keberuntungan dari Allah SWT, Indonesia bisa, Perserosi juara,” ujar Kapten Tim Muhammad Oky mewakili teman-teman atlet lainnya.

“Kita akan bertanding tanggal 31/8, waktu-waktu akhir even, semoga dapat mempersembahkan emas terakhir untuk Indonesia,” tambah Alifia, salah satu atlet putri.

Semangat para atlet juga ditopang dengan optimisme para pelatih. Segala upaya disiapkan secara matang yakni dengan mendatangkan sparing partner Juara Sepatu Roda dari Columbia Hamilton Patino Dorado. Termasuk juga pemilihan area di Cluster Aralia Bekasi yang bertujuan untuk mengondisikan situasi track dan cuaca yang mirip seperti area Jakabaring Sport City.

“Tempat ini menjadi pilihan karena track dan cuaca yang mendekati track tanding sebenarnya nanti di Palembang. Lawan yang menjadi perhitungan Korea dan Taiwan, tetap optimis dapat persembahkan medali satu emas,” ujar Kepala pelatih Faisal Norman.

Motivasi dan Bonus Untuk Atlet Berprestasi

Menteri yang hobi bermain bulutangkis ini pun terus memberikan semangat dan perhatian kepada atlet. Dari melihat cidera kaki salah satu atlet putri, hingga memberi keyakinan. Bahwa pemerintah terus menyiapkan penghargaan dan masa depan atlet berprestasi.

Seperti bonus uang untuk Asian Games yang terbesar sepanjang sejarah, menjadi PNS yang formasinya terus disampaikan ke KemenPAN RB, dan rumah yang disiapkan KemenPUPR.

“Pada tahun 2011 kita pernah berjaya meskipun level ASEAN dan sekarang pasti lawan-lawan lebih berat, semoga sejarah itu bisa berulang, dan pemerintah terus memberikan perhatian lebih. Ketika kalian mampu mengalahkan diri sendiri, yakinlah kita akan menang menghadapi lawan,” katanya menyemangati.

Tim sepatu roda sendiri akan berangkat ke Palembang tanggal 19 Agustus dan akan bertanding tanggal 31 Agustus. Hingga saat ini sudah 12 negara yang akan ikut berebut medali. Dan hanya dipertandingkan satu nomor yaitu Road Race 20 KM pada lintasan 400 M putra-putri.

Sepatu roda menjadi satu dari 10 cabang olahraga baru yang akan dipertandingkan pada Asian Games 2018. Empat nama atlet Indonesia yang sudah terdaftar untuk berlaga (entry by name) yaitu dua putra adalah Muhammad Oky dan Tias Andira, sedangkan dua putri yakni Alifia Meidia Namasta dan Salma Fallya Niluh.

VJ Daniel Ajak Rakyat Indonesia Untuk Lebih Peduli dengan Olahraga Indonesia

VJ Daniel Ajak Rakyat Indonesia Untuk Lebih Peduli dengan Olahraga Indonesia – Kapan kejayaan olahraga Indonesia kembali dan bisa menjadi salah satu macan Asia yang disegani? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh rakyat Indonesia sendiri. Di saat semua masyarakat peduli dengan perkembangan dunia olahraga, di situlah Indonesia akan disegani di Asia, bahkan dunia.

Baca juga : Tak Hanya Otot, Jadi Atlet Sofbol Itu Juga Harus Cerdik

Ajakan untuk mengembalikan kejayaan dunia olahraga Indonesia sudah mulai didengungkan dengan kampanye #KemenanganIturDekat. Program yang dipelopori oleh Grab, official mobile platform partner untuk Asian Games 2018 ini memiliki tujuan untuk membuat masyarakat lebih peduli terhadap perkembangan olahraga Indonesia. Salah satu programnya adalah dengan menggandeng public figure untuk mempromosikan tagar #KemenanganItuDekat #CeritaKemenangan selama perhelatan Asian Games 2018.

Kampanye sudah dimulai dan Daniel Mananta adalah salah satu jagoan Grab untuk mewujudkan #KemenanganItuDekat. Dirinya hadir ditorch relay Asian Games 2018 di Makassar, Sulawesi Selatan, tanggal 29 Juli lalu. Selain menjadi salah satu pembawa obor Asian Games, lewat media sosial, Daniel juga mengajak rakyat Indonesia untuk lebih peduli dengan dunia olahraga Indonesia.

Asian Games

Salah satu postingannya bergambar Sutiyono, mantan pebalap sepeda dengan #CeritaKemenangan yang hebat, yaitu medali emas SEA Games 1977 dan 1979. Sutiyono memiliki harapan untuk membangun sebuah yayasan yang diharapkan mampu mencetak calon atlet sepeda berprestasi.

Kini, mimpi kemenangannya adalah sesederhana meneruskan momen kemenangannya dengan mendirikan yayasan untuk dapat melatih dan mencetak calon atlet sepeda berprestasi, tulis VJ Daniel dalam caption Instagram miliknya.

VJ Daniel mengaku terinspirasi dengan semangat para mitra Grab yang mendukung jalannya kirab obor Asian Games 2018 di Makassar. Dia ingin semua masyarakat Indonesa juga merasakan semangat Asian Games dengan menceritakan momen kemenangan bersama tagar #KemenanganItuDekat, sebanyak-banyaknya.

Sebagai informasi, satu tagar #KemenanganItuDekat akan dihargai Grab senilai Rp5.000,-. Jumlah total dari keseluruhan donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada atlet-atlet veteran untuk mewujudkan mimpi mereka.

Tak Hanya Otot, Jadi Atlet Sofbol Itu Juga Harus Cerdik

Tak Hanya Otot, Jadi Atlet Sofbol Itu Juga Harus Cerdik – Dengan tampil di ajang Asian Games 2018, Syehan Hana Rahmani akan mendapat pengalaman yang istimewa. Tak hanya mengandalkan otot, pemain Timnas sofbol putri itu juga menyadari kalau harus bisa bermain dengan cerdik.

Baca juga : Jelang Asian Games 2018, Emilia Nova Semakin Ketat Memilih Makanan

Hasil manis di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat, Syehan mendapatkan tempat di pelatnas sofbol. Kini, atlet 21 tahun itu menjadi bagian tim inti sofbol putri untuk Asian Games 2018.

Syehan tak akan membuang kesempatan itu. Sebab, ini menjadi pengalaman pertama Timnas sofbol putri untuk tampil di Asian Games.

“Di ajang ini menjadi pengalaman berharga, khususnya bagi saya, karena sofbol pertama kali di Asian Games. Tentu saya ingin menjadi sejarah untuk Indonesia dan bermain terbaik bagi Tanah Air,” kata Syehan kepada detikSport di Lapangan Sofbol kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.

“Untuk mendapatkan medali Asian Games ini sangat kurang. Apalagi, kami melawan tim-tim kuat. Salah satunya Jepang yang sudah membentuk timnya sejak tiga tahun lalu. Tidak seperti tim kami yang baru seleksi dan pelatnas tahun lalu,” kata Syehan yang memulai pelatnasnya sejak Februari 2018.

Asian Games 2018

“Sejak kembali dari uji coba Asia Cup kemarin kami berbenah, memperbaiki kekurangan. Dan saat ini saya dan teman-teman sudah banyak improve. Target kami bermain baik dan menjaga nama baik Indonesia,” ujar dia.

Secara pribadi, Syehan juga bertekad untuk tak tampil memalukan di Asian Games nanti. Dia ingin perkenalananya di sofbol sejak duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar lewat ekstrakurikuler, tak sia-sia.

Dia berharap latihan pagi dan sore di bawah terik matahari yang sudah membuat kulitnya gosong bisa memiliki catatan sip di Asian Games. Dia juga ingin membayar lunas dukungan kedua orang tuanya.

“Orang tua selalu mendukung apa yang saya lakukan. Tapi ya itu saya harus mengimbangi sekolah dengan olahraga. Salah satunya, saya kuliah di Universitas Padjadjaran, kebetulan saya sudah lulus tahun ini. Tapi tetap pikiran harus terbagi dua dan saya harus jauh tinggal dari orang tua karena mereka di Bandung,” tutur mojang Bandung ini.

“Belum lagi olahraga sofbol itu panas. Tapi selama saya senang apapun akan saya lakukan. Apakah itu panas, hujan, berdarah-darah, luka-luka, selama saya suka akan saya jalani,” ungkapnya.

“Ya ini prosesnya. Apalagi ini bukan olahraga mainstream. Tidak semua orang mengerti sofbol. Tapi sebenarnya kalau mengerti, ini olahraga yang unik dan saya suka olahraga ini,” katanya lagi.

Satu hal yang membuat Syehan setia dengan sofbol adalah keunikan olahraga ini. Dia menilai sofbol tak cuma mengandalkan otot.

“Jadi pastinya harus cerdik ketika bermain sofbol,” ujar Syehan sembari tersenyum.