Evaluasi Bulu Tangkis Indonesia di Tahun 2017

Evaluasi Bulu Tangkis Indonesia di Tahun 2017
Bulu tangkis Indonesia diwarnai sejumlah prestasi membanggakan sepanjang 2017. Pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, mampu memecahkan rekor dunia dengan menyabet tujuh gelar super series selama setahun, termasuk Dubai World Superseries Finals 2017.

“Saya tak menyangka Kevin dan Marcus meledak di 2017. Saya awalnya berpikir mereka akan melejit di 2018 atau saat Asian Games lah. Ternyata sudah duluan,” ujar pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi saat ditemui Tempo.

Ganda campuran juga mampu menunjukan tajinya di dunia lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto. Tontowi/Liliyana menjadi juara dunia BWF yang digelar di Skotlandia. Sedangkan Praveen/Debby masuk di tiga final super series dan menjuarai satu di antaranya, yakni Korea Open Super Series 2017.

Sayangnya di sektor lain, prestasi ini belum dapat diimbangi. Meski begitu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti mengatakan selain dari nomor ganda putra dan ganda campuran, tiap nomor lain mengalami perkembangan yang pesat.

Keberhasilan tunggal putri pratama, Gregoria Mariska Tunjung menjuarai Kejuaraan Dunia Junior 2017, dinilai Susy merupakan langkah awal kebangkitan nomor putri Indonesia. Selain itu, di nomor ganda putri, pasangan baru Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga secara mengejutkan tampil impresif di sejumlah turnamen debutan mereka.

Meski begitu, Susy mengatakan di akhir tahun sejumlah perombakan akan dilakukan di tubuh pelatnas Cipayung, Jakarta Timur. Perbaikan demi perbaikan dituntut terus demi mengejar target emas semaksimal mungkin di Asian Games 2018 Jakarta Palembang nanti.

“Bukan hanya untuk 2018 tapi juga hingga ke Olimpiade 2020 nanti. Jadi ada beberapa kriteria tipe atau beberapa komposisi yang akan kita coba. Kita lihat sesuai kebutuhan,”  kata Susy.

Berikut beberapa kejadian penting yang terjadi di bulu tangkis indonesia sepanjang 2017

Tunggal Putra
Pasca era Taufik Hidayat, tunggal putra Indonesia masih belum mampu konsisten di persaingan dunia. Sepanjang 2017, Indonesia mengandalkan Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa.

Catatan paling gemilang dibuat tunggal putra Indonesia di ajang Korea Super Series 2017 pada bulan September, di mana all Indonesian Final terjadi. Dalam pertandingan itu, Ginting berhasil mengatasi perlawanan Jonatan dan memastikan gelar juara.

Jonatan sendiri menjadi juara di ajang SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, di nomor tunggal putra. Ia menyumbang emas pertama Indonesia di cabang bulutangkis. Jonatan dan Ihsan juga ikut berkontribusi saat tim beregu putra Indonesia menaklukan Malaysia di final nomor beregu. Keduanya tampil prima dan memastikan Indonesia menang telak 3-0 atas tuan rumah.

Ganda Putra
Sektor ganda putra menjadi yang paling disorot sepanjang 2017 ini. Pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon tampil beringas sepanjang tahun. Mereka berhasil lolos ke sembilan final super series dan menjadi juara pada tujuh di antaranya, termasuk Dubai World Super Series Finals 2017. Capaian ini memecahkan rekor juara super series terbanyak selama satu tahun yang sebelumnya dipegang oleh pasangan Korea Selatan, Lee Yoong Dae/Yoo Yeon Seong.

Penampilan konsisten Kevin/Marcus dimulai saat mereka menjuarai All England pada bulan Maret. Tampil prima sejak awal turnamen, The Minions menutup aksi mereka dengan menumbangkan pasangan Cina Li Junhui/Liu Yuchen dalam dua set langsung.

Penampilan ini terus konsten mereka tampilkan. Mereka kemudian juara di India Open (Maret-April), Malaysia Open (April), Japan Open (September), China Open (November), Hong Kong Open (November), dan Dubai World Super Series Finals (Desember). Mereka juga melaju ke final di Korea Open (September) dan Denmark Open (Oktober) meski akhirnya kalah.

Capaian fantastis Kevin/Marcus membuat Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menganugerahkan pemain terbaik 2017 pada mereka. Penghargaan itu jarang diberikan pada pemain di sektor ganda. Bahkan pemerintah lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga juga memberikan bonus berupa uang Rp 150 juta, usai mereka juara di Dubai.

Pasangan ganda putra lain tampil belum sekonsisten The Minions. Pasangan seperti Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama, Berry Angriawan/Hardianto, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, juga Rian Agung Saputro/Mohammad Ahsan tampil cukup baik. Namun mereka kerap terlempar di babak kedua atau perempat final dan semifinal super series.

Tunggal Putri
Sektor tunggal putri masih kesulitan berbicara di persaingan dunia. Beberapa atlet andalan pelatnas Cipayung seperti Fitriyani, dan Dinar Dyah Austine masih belum mampu menonjolkan prestasi di tingkat super series maupun Gran Prix.

Capaian kurang memuaskan ini membuat ranking mereka belum tembus 20 besar dunia. Fitriani ada di peringkat 24, sementara Hanna di 33, dan Dinar di 36. Meski begitu, Susy Susanti mengaku sektor ini memiliki tren perkembangan yang positif.

Padangan ganda putri Imdonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, berhasil menjuarai Turnamen Prancis Terbuka 2017. (badmintonindonesia.org)

Salah satunya, ia merujuk pada atlet Gregoria Mariska Tunjung yang menjadi juara di Kejuaraan Dunia Junior 2017 digelar di Yogyakarta. Atlet berumur 18 tahun itu seakan menjadi angin segar bagi sektor tunggal putri. Saat ini, Grego telah merangkak naik ke peringkat 43 dunia.

“Tunggal putri, memang di senior baru mencapai semifinal atau final, tapi kita setelah 25 tahun, pemain kita bisa menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Secara keseluruhan menunjukan peningkatan lah,” kata Susy.

Ganda Putri
Sektor ganda putri mulai menunjukan tajinya kembali saat Greysia Polii dipasangkan dengan Apriyani Rahayu. Kolaborasi atlet senior dan junior ini mampu tampil mengejutkan dan bahkan menjuarai satu super series.

Greysia/Apriyani baru dipasangkan pada pertengahan Mei 2017 lalu, di ajang Piala Sudirman. Namun saat dipasangkan di France Open Super Series 2017 (Oktober), pasangan ini di luar dugaan meraih titel juara super series pertama mereka. Greysia/Apriyani menaklukan pasangan asal Korea Selatan Lee So Hee/Shin Sheung Chan dalam dua game langsung.

Selain itu kembali membuat kejutan dengan lolos ke final Hong Kong Open Super Series 2017 (November). Sayang di final, keduanya harus mengakui keunggulan pasangan Cina, Cheng Qingchen/Jia Yifan. Meski begitu, capaian Greysia/Apriyani dinilai sebagai hasil positif perkembangan di sektor ganda putri.

“Tahun ini terus terang melebihi ekspetasi saya terutama dari Apriyani Rahayu. Karena dia hasilnya gemilang,  padahal itu semestinya prediksi saya tahun depan, tapi ternyata kuartal terakhir tahun 2017 grafik dia bagus, signifikan,” kata pelatih kepala ganda putri Eng Hian.

Ganda Campuran
Selain ganda putra, sektor ganda campuran menjadi salah satu kekuatan Indonesia di dunia saat ini. Dua pasangan Indonesia terhitung masuk di jajaran delapan besar ganda campuran dunia, yakni Tontowi Ahmad/zccatsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto.

Namun sepanjang 2017, hanya Tontowi/Liliyana yang mampu tampil konsisten. Owi/Butet, sapaan mereka, berhasil menjadi juara dunia dengan memenangkan Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis yang digelar di Skotlandia pada Agustus 2017 lalu. Mereka juga menjadi jawara di dua Super Series, yakni Indonesia Open (Juni) dan France Open (Oktober).

Selebrasi Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dalam Dubai World Super Series Finals 2017 di Uni Emirat Arab. Badmintonindonesia.org

Pasangan peringkat tiga dunia itu juga berhasil lolos ke Dubai World Superseries Finals 2017 pada Desember lalu. Di sana mereka mampu lolos hingga semifinal sebelum akhirnya ditaklukkan pasangan Cina Zheng Siwei/Chen Qingchen.

Meski begitu, Praveen/Debby mampu lolos ke Dubai World Super Series Finals 2017 yang diperuntukan bagi delapan besar dunia. Sayang di turnamen itu, Praveen/Debby bermain tak maksimal dan harus pulang tanpa kemenangan dari tiga kali bertanding.

Penurunan performa Praveen/Debby ini membuat keduanya akan dipisahkan. Susy Susanti mengatakan pihak PBSI telah berkoordinasi dengan pelatih terkait rotasi pada sejumlah pasangan ganda. Debby Susanto dipastikan akan berpasangan dengan Ricky Karanda Suwardi yang sebelumnya bermain di ganda putra. Sedangkan Praveen akan dipasangkan dengan Melati Daeva Oktaviani.

Selain itu, pada tahun depan, atlet senior Hendra Setiawan juga dipastikan akan kembali ke Pelatnas Cipayung. Hendra akan kembali dipasangkan dengan Mohammad Ahsan. Pasangan ini sebelumnya sempat merajai ganda putra dunia pada periode 2013-2015 silam.

Keduanya pernah menyabet gelar juara dunia sebanyak dua kali pada 2013 dan 2015. Pasa tahun yang sama, keduanya juga menjadi jawara di BWF Super Series Finals. Mereka juga sempat menyabet gelar All England pada 2014 dan menyumbang emas di Asian Games 2014.

Menurut pelatih bulu tangkis ganda putra, Herry IP, kembalinya pasangan ini merupakan proyek jangka pendek PBSI. Di tahun 2018, Indonesia yang akan menjadi tuan rumah Asian Games, berharap banyak dari cabang bulu tangkis. Di samping itu, turnamen besar seperti Thomas Cup juga akan digelar. Meski memiliki Kevin/Marcus sebagai kekuatan utama, namun Herry menilai kedatangan Hendra dirasa sangat diperlukan.